TIPS & TRIK NEWS TECHNO GAMES OTAKU KULINER

Melahirkan Normal di Rumah, Perhatikan 8 Hal ini.

Novi Nurpajar | Kamis, 03 Oct 2019 - 03:25 PM

 

Berencana melahirkan di rumah? Perhatikan delapan hal ini ya.

Banyak wanita yang ingin mencoba melahirkan di rumah agar lebih nyaman dan intim. Tidak semudah kedengarannya, melahirkan di rumah memiliki ragam risiko yang perlu Mama ketahui.

Baca juga

Sebelum melahirkan di rumah, perhatikan delapan hal ini ya, Ma, agar tidak salah langkah. !

1. Lakukan riset terlebih dahulu

Akan sangat jarang Mama bisa menemukan dokter obgyn yang mau datang untuk membantu persalinan di rumah.

Dengan pendidikan dan sekolah yang panjang, dokter obgyn diajarkan bagaimana proses melahirkan adalah suatu peristiwa medis berpotensi mengalami komplikasi.

Di beberapa negara, dokter naturopati lah yang banyak menolong pasien untuk melahirkan di rumah. Meski demikian, seorang bidan menjadi kandidat yang paling mungkin.

Pastikan Mama memilih praktisi yang punya pengalaman sebelumnya. Wajib bertanya berapa banyak persalinan yang pernah ditanganinya. Tanyakan hal yang sama kepada asisten dokter.

2. Rencanakan keadaan darurat

Rencanakan lah keadaan darurat dan pastikan praktisi yang akan membantumu melahirkan di rumah membawa peralatan medis sesuai. Maka dari itu, saat ‘mewawancarainya’, ajukan pertanyaan spesifik tentang berbagai komplikasi yang pernah ditanganinya ketika melahirkan di rumah.

Praktisi harus mempunyai pengetahuan dan peralatan yang diperlukan untuk menyadarkan bayi baru lahir, memberikan obat jika pendarahan, serta menjahit vagina dengan kerobekan ‘parah’.

Dalam keadaan darurat itu, praktisi harus mmebawa cairan infus, tangki oksigen, masker oksigen dengan berbagai ukuran bayi. Dia juga harus membawa alat oksigen untuk dewasa serta perlengkapan ‘jahit’ sebelum proses melahirkan di rumah dilakukan.

3. Punya daftar rumah sakit terdekat

Tetap punya daftar rumah sakit pilihan Mama jika memilih proses melahirkan di rumah. Pastikan Mama selalu punya rencana cadangan yang dipikirkan dengan matang sebelum melahirkan di rumah.

Lawrence Leeman, MD, dari Rumah Sakit Universitas New Mexico di Albuquerque, NM, mengingatkan, sangat penting untuk memiliki akses yang dekat ke rumah sakit untuk berjaga-jaga kalau pada akhirnya membutuhkan lebih banyak perawatan medis.

“Sangat penting bagi ibu yang mau melahirkan di rumah memiliki daftar rumah sakit bila harus ditransfer. Tidak aman jika merencanakan melahirkan di rumah di mana Anda atau praktisi tidak mau pergi ke rumah sakit dalam kondisi apa pun,” tambahnya.

4. Jika dipindah ke rumah sakit tidak selalu darurat
 

Melahirkan di rumah yang direncanakan bisa berubah menjadi persalinan di rumah sakit. Jika Mama tiba-tiba diminta pergi ke rumah sakit saat proses melahirkan di rumah, itu tidak selalu dalam kondisi darurat.

Di Inggris, diperkirakan satu dari tiga melahirkan di rumah yang direncanakan memerlukan perjalanan ke rumah sakit baik selama atau setelah persalinan.

Leeman menambahkan, “Saya pikir salah satu kesalahpahaman paling umum adalah bahwa transfer yang terjadi saat melahirkan di rumah merupakan tindakan darurat. Persalinan lama di rumah tanpa kemajuan, kantong ketuban pecah untuk jangka waktu yang lama, ini menjadi alasan umum untuk memindahkannya ke rumah sakit. Sebagian besar ibu yang melahirkan di rumah berakhir dengan persalinan normal, mungkin membutuhkan suntikan untuk membantu kontraksi lebih kuat atau lebih sering.”

5. Dibuat lebih rinci

Saat merencanakan melahirkan di rumah, Mama harus membuat rencana yang rinci. Putuskan di mana Mama akan melahirkan dan siapa yang boleh hadir.

Tidak ada aturan tentang berapa banyak orang yang harus hadir saat melahirkan di rumah. Apakah menyertakan anak-anak, keluarga, teman-teman, atau hanya diri sendiri dan pasangan. Semua terserah Mama, tergantung bagaimana kenyamanannya.

Tergantung pada seberapa jauh tempat Mama dari rumah sakit, mungkin opsi melahirkan di rumah teman atau kerabat bisa menjadi pilihan. Dengan begitu, jika ada keadaan darurat, Mama bisa segera dibawa ke rumah sakit.

6. Pertimbangkan untuk tetap mendaftar kelahiran di rumah sakit

Pasien yang memilih melahirkan di rumah perlu mempertimbangkan poin ini. Mereka perlu tetap mendaftar ke rumah sakit walaupun ingin melahirkan di rumah.

Pergi tes laboratorium prenatal dan USG selama hamil di rumah sakit bisa menjadi pilihan alternatif. Dengan begitu, asuransi bisa digunakan. Jika pasien akhirnya dipindahkan ke rumah sakit, catatan medis sudah ada dalam arsip.

7. Biaya melahirkan di rumah

Ketahui biaya melahirkan di rumah. Umumnya, biayanya akan lebih mahal dibandingkan melahirkan di rumah sakit karena sangat private dan berisiko. Umumnya di luar negeri biayanya sekitar US$1,500 (Rp19 jutaan) hingga US$3 ribu (Rp40 jutaan).

Semua tergantung bagaimana proses yang Mama inginkan saat melahirkan di rumah. Biaya tersebut sudah termasuk perawatan prenatal dan enam minggu setelah postpartum.

8. Pelajari risikonya

Menurut sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Obstetrics & Gynecology, risiko kematian bayi baru lahir saat proses melahirkan di rumah hampir dua kali lipat. Ini dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan di rumah sakit.

Meski sudah memiliki rencana darurat yang baik, Mama bisa kehilangan waktu berharga dalam perjalanan ke rumah sakit. Wanita yang melahirkan di rumah lebih mungkin mengalami masalah seperti perdarahan postpartum dan persalinan berjalan lambat.

Untuk itu, Mama perlu mempertimbangkan poin-poin di atas ya agar rencana melahirkan di rumah berjalan lancar.

Tag: Ibu Hamil, Melahirkan , Rumah Sakit

biartau
"The more that you read, the more things you will know"
Hubungi kami / Kerja sama

Facebook
Instagram
Whatsapp

Hubungi kami / Kerja sama

Facebook
Instagram
Whatsapp






Copyright © 2019 Biartau All rights reserved.